Category Archives: Sosial

International Work and English CAMP!

International Work and English Camp… Indonesian and Australian Students working together!

Griya Semeru and Drummond Study Centre offers a wide range educational, character development, and professional development activities for high-school boys, university students and for men who are already putting their talents at the service of their families and society.

Dates:  From Dec 28, 2016 to January 14, 2017.

This year’s annual workcamp will take place from the 28th December to the 14th of January in Jenangan, Madiun, East Java, Indonesia.

The Work Camp aims for 5 B’s:

  • Bekerja Restoration of local School (SMK)
  • Berkarya   multi-cultural social work with local community
  • Berekreasi Explore recreative sites in East Java and Yogyakarta
  • Berdoa Develope your spiritual life through special moments set aside for discussions and prayer
  • Belajar Total Immersion language course

This is simply the best way to spend your holidays, as you will be spending time with your mates, helping the poor, meeting new people, and enjoying the culture of a new country!

Two Groups:

  • Group 1:   Dec 30 – Jan 4
  • Group 2:   Jan 4 – Jan 12
  • Trip to Yogyakarta: Jan 12 – 14

Registration Fee

  • Accommodation, transportation, meals, contribution to materials included Rp 300,000 (per period)
  • Optional Trip to Yogyakarta with Australian team from Jan 12-14. Additional Fee Rp 200,0000

Fundraising

  • We aim at helping with the cost of materials and local helpers for the works. Your donations are welcome

Need English Classes before the Camp?  Contact us…  Classes staring soon (Nov until Dec). English Classes are for FREE!!!

auss-ind_work-camp-17

Work Camp Indonesia – Japan August 2016!!! At Jenangan.

Peru: Melawan “Lingkaran Setan Kemiskinan”

Dalam sebuah program yang berlangsung selama 3 tahun dan yang diselenggarakan oleh Universitas Piura, lebih dari 500 anak-anak di salah satu daerah termiskin di wilayah Piura di Peru, telah dibantu untuk mengatasi kekurangan gizi yang kronis.

15 April , 2011

“Meskipun banyak keprihatinan akan adanya kekurangan gizi yang kronis pada hampir separuh jumlah anak-anak di wilayah Piura,” kata Dr Gerardo Castillo, Direktur Departemen Ilmu Biomedis di Universitas Piura, “di masa lalu hanya ada upaya parsial dan terputus-putus untuk mengatasinya.Sekarang adalah saatnya untuk menyatukan semua upaya itu dan mencoba untuk benar-benar mencapai hasil yang signifikan. ”

Universitas Piura, yang terletak di kota tertua di Amerika Selatan, di sudut barat laut Peru, dimulai pada tahun 1964 di bawah dorongan St Josemaria Escriva.

Dalam menyelenggarakan Program Pemulihan Nutrisi , Dr Castillo menyatakan, “telah diambil keputusan untuk memusatkan perhatian pada salah satu daerah dengan jumlah kasus malnutrisi yang tertinggi, dan mencari bantuan dari organisasi-orgnisasi dari kota-kota dan daerah-daerah lain, menggabungkan semua sumber daya untuk satu usaha ini. ”

Perkembangan sosial yang menyeluruh

Program ini, dibiayai oleh Pemerintah Daerah Navarra di Spanyol dan ProPeru di Peru, dimulai pada bulan Januari 2008 dan berakhir pada bulan Desember 2010. Castillo mengatakan bahwa “dari awal kami memfokuskan  program ini ke arah perkembangan sosial yang menyeluruh.”

Proyek ini dimulai ketika beberapa penelitian menunjukkan adanya kelemahan mental yang serius pada anak-anak yang kekurangan gizi, bersama dengan adanya kekurangan makanan suplemen dari PRONAA (Program Nasional untuk Penambahan Gizi). Kunci untuk mengatasi masalah itu adalah pendidikan keluarga, terutama ibu-ibu, untuk memberikan nutrisi yang dibutuhkan secara teratur

Sebuah rencana

Untuk membuat rencana yang efektif, telah dilaksanakan sebuah studi yang menyeluruh tentang status gizi balita di wilayah Piura Tengah. Studi ini juga menyelidiki tentang sebabnya timbul penyakit-penyakit seperti diare dan cacing usus yang dapat memperburuk kekurangn gizi.

Dengan informasi dari penelitian ini disusun sebuah rencana berdasarkan atas enam tujuan: 1) kewaspadaan gizi; 2) perawatan medis bagi wanita hamil dan anak-anak; 3) mengatasi kelemahan mental; 4) pendidikan ibu; 5) sumber makanan yang mandiri; 6) menguatkan organisasi masyarakat setempat. Faktor yang paling penting adalah mendidik para ibu dalam merawat kebersihan pribadi dan mencegah penyakit pencernakan. Pada waktu yang bersamaan, diusahakan untuk membantu para ibu menyiapkan makanan dengan biaya rendah tetapi dengan nilai gizi yang tinggi. Langkah pertama adalah untuk membantu keluarga-keluarga untuk memelihara ternak: bebek dan babi, dan untuk menyediakan sumber-sumber makan lain di “bio-gardens.”

Wanita, kuncinya

Sadar bahwa kaum wanita adalah factor kunci untuk mengatasi masalah ini, program ini juga bertujuan  untuk meningkatkan harga diri para ibu. Dan karena banyak dari antara mereka belum memiliki Kartu Tanda Penduduk, maka inilah yang  menjadi prioritas pertama. Kemudian Program Keaksaraan Dasar dimulai. Sangat mengherankan jumlah persentase ibu-ibu yang mau mengikutinya.

Ketika PRONNA terbentur masalah dalam menyediakan makanan tambahan dalam suatu periode tertentu, petugas yang bersangkutan sangat khawatir bahwa berat badan anak-anak akan mulai menurun lagi. Tetapi, untunglah ibu-ibu sudah mendapat pendidikan yang memadai mampu mendapatkan sendiri sumber-sumber bahan makanan yang diperlukan.

Memutus Lingkaran Setan Kemiskinan

Sebagai hasil dari prakarsa ini, dalam waktu kurang dari tiga tahun 98% dari anak-anak tidak lagi menderita kekurangan gizi. “Kami memilih anak-anak dari lahir sampai usia lima tahun (untuk penelitian) karena pada usia ini  akan terjadi kerusakan otak jika anak tidak menerima makanan yang sesuai. Akibat kerusakan otak itu sangat besar dan akan membawa konsekuensi yang sangat serius di masa depan. ” Dan Dr Castillo menambahkan, “inilah saatnya di mana risiko yang paling besar muncul sehingga kemiskinan akan menjadi lingkaran setan.”

Sekelompok profesional mengawasi program pendidikan di klinik-klinik. Selain adanya perbaikan kondisi kesehatan fisik secara menyeluruh, kapasitas intelektual dari sebagian besar anak-anak kecil itu pun telah membaik banyak.

Gotong Royong
Program ini dapat dilaksanakan berkat upaya gabungan dari lembaga-lembaga publik dan swasta di daerah Piura. Telah dibentuk suatu persekutuan strategis yang menggabungkan upaya orang tua, pekerja kesehatan masyarakat, lembaga pemerintah pusat (Departemen Kesehatan, Departemen Produksi, Kementerian Masalah Wanita, Dinas Pendidikan), pemerintah daerah serta perusahaan swasta.

Ketika menipulkan hasil karya projek ini, Dr Castillo mengatakan : “Universitas Piura memberi pengetahuan teknis dan tenaga mahasiswa dan profesional yang dibutuhkan. Tetapi setiap lembaga dan sektor memberikan kontribusi mereka masing-masing, karena yakin bahwa proyek tersebut, jika berhasil, akan berjalan secara mandiri dengan berselangnya waktu”

Terdapat 507 anak-anak dari 14 desa di sebelah timur Sungai Piura, yang telah menerima manfaat dari program ini.